Jatuh Bangun Bang Toyib Rintis Usaha Nasi Goreng di Lombok dari Nol

Herman, (Bang Toyib) sibuk membungkus kerupuk untuk disiapkan saat berjualan nasi goreng.

Mataram, Grafikanews.com - Kisah perjalanan hidup Herman atau yang lebih akrab disapa Bang Toyib menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Pria asal Brebes, Jawa Tengah, ini sukses membangun usaha nasi goreng di Lombok setelah melewati berbagai rintangan.

Julukan Bang Toyib melekat pada dirinya karena di masa lalu ia sangat jarang pulang ke kampung halamannya.

Jatuh Bangun Bang Toyib Rintis Usaha Nasi Goreng di Lombok dari Nol

Uniknya, tulisan nama tersebut tertera di gerobak nasi gorengnya berkat keisengan seseorang yang hingga kini tidak ia ketahui identitasnya.

Perjalanan keras merantau Herman dimulai pada usia 14 tahun dengan bekerja di sebuah warteg di Jakarta.

Usaha tersebut terpaksa hancur akibat musibah kebakaran yang terjadi dua kali berturut-turut serta masalah sengketa lahan.

Tak menyerah, ia sempat berganti profesi menjadi penjaga toko tas, sales percetakan, hingga berjualan pempek.

Berbekal sisa uang Rp1.100.000, Herman memberanikan diri merantau ke Lombok pada tahun 2009 untuk berjualan putu keliling.

"Awalnya saya jualan putu keliling di tahun 2009, tapi lama-lama terasa semakin melelahkan. Akhirnya pada tahun 2010 saya beralih jualan nasi goreng, karena ke depannya saya memang ingin bisa mangkal," ujar Herman kepada Grafikanews.com belum lama ini.

Pada percobaan memasak pertamanya, ia mengaku sempat mengalami kegagalan saat meracik bumbu.

"Waktu awal mempraktikkan jualan nasi goreng, percobaan pertama sempat gagal karena teksturnya terlalu lembek seperti bubur. Tapi saya terus memperbaiki resep secara bertahap sambil berjualan," kisahnya.

Ia akhirnya memutuskan mangkal di kawasan Seruni, Kota Mataram, karena mendapat saran dari warga setempat.

"Tantangan terberat saat pertama kali menetap itu rasanya cuma jadi tontonan orang lewat," ungkapnya.

Tantangan pelik lainnya yang kerap dihadapinya adalah ketika harga bahan baku di pasaran melambung naik.

"Momen paling sedih itu kalau harga bahan baku naik, karena harga jual nasi goreng tidak bisa kita naikkan sembarangan. Kalau dinaikkan, pembeli pasti membandingkan dengan tempat lain," keluhnya.

Meski begitu, Herman merasa jauh lebih aman dan nyaman berjualan di Lombok dibandingkan saat ia berada di Jawa.

Mayoritas pelanggannya di Lombok adalah pendatang, pekerja, dan mahasiswa yang dinilai bersikap baik.

Bagi satu atau dua pembeli yang suka berutang dan kabur, ia memiliki trik jitu yang selalu diterapkan.

"Kalau ada pembeli yang berutang lalu menghilang, ketika datang lagi untuk pesan kedua atau ketiga kalinya, saya sengaja tidak beri garam biar rasanya tidak enak, jadi mereka kapok dan tidak kembali lagi," tambahnya.

Kini, warung nasi goreng Bang Toyib buka setiap hari mulai pukul 17.00 hingga 23.00 Wita dengan harga yang sangat terjangkau.

Berbagai menu seperti nasi goreng, mi goreng, dan mi kuah dijual seharga Rp15.000, sementara nasi mawut dihargai Rp17.000 per porsi.

Kelezatan rasanya bahkan membuat seorang pelanggan ibu-ibu rela bolak-balik hingga empat kali seperti orang mengidam saat warungnya tutup sementara.

"Motivasi utama saya terus bertahan ya demi memenuhi kebutuhan istri dan anak-anak. Kuncinya sebagai pedagang itu harus ulet, yakin, dan mau terus introspeksi untuk memperbaiki kualitas," pungkasnya. [Red]

Tags: