Grafikanews.com – Dampak Pandemi Covid-19 begitu nyata dirasakan seluruh dunia. Pandemi melumpuhkan berbagai sektor mata pencaharian, tak terkecuali usaha kecil pedagang kaki lima.
Ibu Aminah (50), adalah segelintir pedagang kaki lima yang masih bertahan di situasi pandemi. Ia biasa berjualan di area Lapangan Malomba, sejak 15 tahun yang lalu.
Pandemi Covid-19, tak mematahkan semangatnya untuk tetap berjualan.
"Teman seprofesi saya sudah banyak yang terpaksa menutup usahanya," katanya kepada GrafikaNews.com saat ditemui di Lapangan Malomba, Minggu (30/08).
Dengan tegas ia mengatakan, semangat untuk menghidupi keluarga menjadi harga yang tak bisa ditukar dengan apapun. "Sekalipun orang diam dirumah ya saya tetap berjualan," ujar ibu tiga anak ini
“Saya berjualan disini sejak jaman sepak bola Neo, sampai saat ini saya ya tetap berjualan disini,” ungkapnya dengan senyuman simpul.

"Sebelum Corona saya bisa membawa pulang 150ribu tapi sekarang 50ribu itu pun sudah sangat bersyukur,” ucapnya dengan penuh rasa syukur.
Tak berjualan sendiri, wanita paruh baya ini terkadang ditemani anak perempuannya.
“Kadang anak saya yang perempuan bantu jualan disini,” ujarnya.
Anak perempuan ibu Aminah bernama Lia (19). Salah satu pekerja di kantin SMKN 2 Mataram.
“Saya Lia," katanya memperkenalkan diri.
"Selama sekolah libur setiap hari saya bantu 'Inak' (Ibu) berjualan," jelasnya.
Pemerintah NTB sendiri telah memaksimalkan kesejahteraan bagi warga menengah ke bawah dengan adanya JPS Gemilang.
Ibu Aminah merupakan salah satu yang mendapat bantuan pemerintah berupa sembako dari tahap 1 hingga tahap 3.
“Saya sempat tidak mendapat bantuan akhirnya saya berinisiatif protes ke kantor kelurahan, sampai akhirnya dapat,” tuturnya.
“Saya berharap mendapat bantuan sembako serta dapat dibantu pemerintah dengan disediakan rombong untuk memudahkan membawa barang dagangan ke lapangan,” harapnya. (Ads)




RSUD Lombok Utara Siap Sukseskan Kegiata...
BPBD KLU bersama Bank NTB Konsisten Salu...
Mohan Roliskana Terpilih Jadi Ketua KONI...