Ekonomi NTB Tumbuh 7,39 Persen, Angka Pengangguran Turun dan IPM Melesat Naik

Mataram, Grafikanews.com - Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 7,39 persen pada Triwulan III-2026.

Pertumbuhan tersebut dihitung berdasarkan perbandingan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year).

Tren positif ini berjalan beriringan dengan membaiknya kondisi ketenagakerjaan dan meningkatnya kualitas hidup masyarakat NTB.

Tercatat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di NTB berhasil turun menyentuh angka 3,03 persen.

Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga turut meningkat menjadi 74,73 atau masuk dalam kategori tinggi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, memaparkan detail capaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.

Nilai PDRB NTB atas dasar harga berlaku pada Triwulan III-2026 tercatat mencapai Rp56,50 triliun.

Sedangkan nilai PDRB atas dasar harga konstan 2010 dipastikan telah mencapai angka Rp31,06 triliun.

Dari sisi produksi, sektor Pertambangan dan Penggalian menjadi motor penggerak utama dengan peningkatan sebesar 30,23 persen secara tahunan.

Sektor Industri Pengolahan juga mencatatkan pertumbuhan tertinggi secara triwulanan yang mencapai angka 55,79 persen.

Kinerja gemilang ini ditopang kuat oleh optimalisasi operasional smelter dan berlanjutnya siklus produksi tambang konsentrat tembaga.

Perbaikan kondisi ekonomi makro ini secara langsung berdampak positif pada penyerapan sektor ketenagakerjaan di daerah.

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2026, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 3,15 juta orang.

Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi mencapai 34,06 persen.

Di bidang pembangunan manusia, peningkatan IPM terjadi pada seluruh dimensi pembentuknya, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Pada dimensi kesehatan, angka umur harapan hidup saat lahir di NTB terus meningkat menjadi 72,81 tahun.

Capaian ini sejalan dengan perluasan program layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang telah menjangkau 2,2 juta jiwa atau 39,79 persen penduduk NTB.

Pada dimensi pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk berusia 25 tahun ke atas meningkat menjadi 8,51 tahun dan harapan lama sekolah anak usia tujuh tahun mencapai 14 tahun.

Data BPS juga menunjukkan bahwa angka anak putus sekolah di NTB berhasil menurun signifikan sebesar 8,26 persen.

Dari sisi standar hidup, pengeluaran riil per kapita per tahun tercatat meningkat Rp346 ribu, mencerminkan naiknya daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Rangkaian capaian ini membuktikan bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi.

Lebih dari itu, pertumbuhan tersebut terbukti mampu memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.

[Red]

Tags: