BHSC dan Kebangkitan Ekonomi Kreatif Taman Blambangan

Nahkoda Blambangan Heritage Street Community (BHSC) Iwan Ho dan Yudi Oleng

BANYUWANGI – Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, lampu-lampu temaram mulai menyala di bawah rindangnya pepohonan Taman Blambangan. Suara musik khas Banyuwangi terdengar mengalun, aroma kuliner tradisional menggoda setiap pengunjung yang melintas, sementara senyum hangat para pedagang dan pengelola menyambut siapa saja yang datang.

Pemandangan seperti ini mungkin sulit dibayangkan beberapa tahun lalu. Kini, Taman Blambangan telah bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup, menjadi tempat berkumpul masyarakat sekaligus pusat aktivitas ekonomi kreatif yang tumbuh dari semangat gotong royong.

Di balik perubahan itu, terdapat peran para pemuda Kelurahan Kepatihan yang bersama pemerintah kelurahan membangun sebuah gerakan sosial bernama Blambangan Heritage Street Community (BHSC).

BHSC dan Kebangkitan Ekonomi Kreatif Taman Blambangan

Paguyuban yang dipimpin oleh Iwan Ho dan Yudi Oleng tersebut lahir dari keinginan sederhana: menjadikan ruang publik sebagai tempat yang aman, nyaman, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Mengubah Wajah Ruang Publik

Melalui program Car Free Night (CFN), kawasan Taman Blambangan yang selama ini dikenal sebagai ikon Banyuwangi mendapatkan kehidupan baru pada malam hari.

BHSC dan Kebangkitan Ekonomi Kreatif Taman Blambangan

Tidak hanya menjadi tempat berjalan-jalan, kawasan ini berkembang menjadi ruang interaksi sosial yang mempertemukan pelaku UMKM, seniman, komunitas kreatif, musisi jalanan, hingga keluarga yang ingin menikmati suasana kota.

Pedagang yang dahulu berjualan secara sporadis kini lebih tertata. Area parkir lebih terorganisir. Pengunjung merasa lebih aman dan nyaman.

Perubahan itu membuat Taman Blambangan perlahan menjelma menjadi destinasi wisata rakyat yang menghadirkan pengalaman berbeda bagi warga Banyuwangi maupun wisatawan.

Musik Etnik Mengalun di Tengah Kota

Salah satu daya tarik utama kawasan ini adalah nuansa budaya Banyuwangi yang tetap dipertahankan.

Setiap akhir pekan, pengunjung dapat menikmati alunan musik tradisional Using yang berpadu dengan sentuhan modern. Suasana itu menciptakan identitas khas yang tidak ditemukan di tempat lain.

Bagi banyak warga, Taman Blambangan bukan lagi sekadar taman kota, melainkan ruang untuk menikmati kebudayaan Banyuwangi dalam suasana yang santai dan terbuka.

Ketika Trotoar Menjadi Catwalk

Transformasi Taman Blambangan juga terlihat dari berkembangnya kegiatan ekonomi kreatif berbasis fashion. Inovasi para pengurus BHSC terus ditingkatkan. Wacana Blambangan Fashion week mulai mencuat seakan ingin bernostalgia dengan kesuksesan Banyuwangi Fashion Festival dan Banyuwangi Batik Festival.

Mengikuti tren yang pernah viral melalui Citayam Fashion Week di Jakarta, Banyuwangi menghadirkan konsep serupa melalui berbagai event fashion yang memanfaatkan pedestrian dan ruang terbuka sebagai arena peragaan busana.

Namun Banyuwangi memiliki ciri khas tersendiri. Yang ditampilkan bukan sekadar tren busana modern, melainkan karya-karya yang mengangkat identitas daerah seperti batik Banyuwangi dan budaya lokal.

Melalui Banyuwangi Fashion Festival dan Banyuwangi Batik Festival, puluhan desainer lokal mendapatkan ruang untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas.

Ekonomi Rakyat yang Bergerak

Di balik keramaian dan hiburan yang tersaji, terdapat denyut ekonomi yang terus tumbuh. Setiap kegiatan yang berlangsung menghadirkan peluang bagi pelaku usaha kecil untuk meningkatkan pendapatan. Pedagang makanan, minuman, kerajinan, hingga pelaku jasa kreatif memperoleh manfaat dari meningkatnya jumlah pengunjung.Tidak sedikit anak muda yang memanfaatkan momentum tersebut untuk memulai usaha dan memperluas jaringan bisnis mereka.

Dengan kata lain, Taman Blambangan telah membuktikan bahwa ruang publik dapat menjadi motor penggerak ekonomi rakyat apabila dikelola secara kreatif dan kolaboratif.

Membangun Masa Depan dari Ruang Publik

Keberhasilan Taman Blambangan menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar bernilai miliaran rupiah.

Terkadang perubahan besar lahir dari kolaborasi sederhana antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah yang memiliki visi yang sama.

Hari ini, Taman Blambangan bukan hanya taman kota. Ia telah menjadi simbol semangat kebersamaan, kreativitas, dan optimisme masyarakat Banyuwangi.

Di bawah cahaya lampu malam dan rindangnya pepohonan tua, ruang publik itu terus bercerita tentang bagaimana sebuah komunitas mampu mengubah taman menjadi panggung rakyat, tempat ekonomi tumbuh, budaya hidup, dan kebersamaan terus terjaga.

Arip Marsudi